Wednesday, August 27, 2008

Usaha Mi Cepat Saji

Adler Haymans Manurung Praktisi keuangan

Semua orang sering ingin makan tidak terlalu kenyang, tetapi bisa membuat perut sedikit terganjal, bahkan dapat dianggap sebagai pengganti makan. Untuk ini dibuka usaha mi yang dikenal dengan usaha mi cepat saji (instan).
Usaha mi ini adalah usaha memberi nilai tambah atas pengolahan bahan baku yang didominasi mi dan campuran untuk disantap langsung konsumen.
Usaha ini dilakukan dengan berjualan keliling atau di tempat menetap. Untuk jualan keliling harus ada orang yang memasak dan mendorong gerobak mi.
Adapun berusaha dengan tempat menetap dapat dilakukan dengan gerobak menetap dengan membuat tenda dan meja makan sederhana atau menggunakan bangunan berupa rumah, ruko, atau di mal. Usaha ini paling banyak menggunakan gerobak tempat menetap dengan tenda.
Bila menggunakan tempat menetap dengan tenda, lokasi usaha harus strategis, seperti di pojokan atau pada tempat penjualan makanan bersama. Bila perlu pengusaha membuat papan merek untuk penanda tempat usaha.
Bila pengusaha menggunakan mi merek terkenal, kemungkinan pengusaha akan dibantu bila melakukan hubungan baik, terutama untuk tenda atau plang nama. Produsen mi besar mempunyai keuntungan karena pemberian itu merupakan biaya iklan.


Modal
Biaya gerobak dan peralatan, seperti sendok, garpu, mangkok mi, peralatan memasak, sendok goreng, sendok besar, kompor, dan tabung gas, sekitar Rp 5 juta. Semakin banyak konsumen diharapkan datang, biaya peralatan akan bertambah dan semakin besar biaya dikeluarkan. Biaya peralatan semakin besar bila tempat usaha pada tempat menetap karena memerlukan tenda dan meja serta kursi.
Bila pengusaha hanya menginginkan gerobak dorong, maka biaya peralatan termasuk gerobak cukup Rp 5 juta. Pengusaha juga dapat memakai beberapa gerobak dorong.
Biaya pokok harus dikeluarkan untuk mi, sayur, dan telur. Bila pengusaha ingin setiap gerobak dapat menjual minimum 40 porsi, biaya yang dikeluarkan adalah biaya pembelian bahan baku.
Mi dapat diperoleh dengan membeli di pasar dan membuat campuran bumbunya. Pengusaha dapat mengukur satu porsi harus menggunakan sekitar 100 gram mi basah dan sekitar 80 gram untuk mi kering. Oleh karena itu, setiap gerobak butuh 6 kilogram mi untuk sekali jalan.
Harga satu kilogram mi saat ini Rp 4.000-Rp 7.000. Semakin mahal harga, semakin tinggi kualitas mi. Bumbu harus diracik dari rumah usaha sesuai kebutuhan, seperti minyak kaldu ayam atau ikan dan bumbu penyedap.
Biaya bumbu Rp 100-Rp 200 per porsi. Dengan demikian, biaya setiap porsi sebesar Rp 600-Rp 1.100. Biaya ini belum termasuk gas dan biaya usaha.
Pengusaha juga dapat memakai mi instan, hanya tinggal memasak pakai air panas. Berarti pengusaha hanya membeli sayuran sawi hijau setiap pagi agar tetap segar saat disajikan.
Harga sebungkus mi kemasan instan sekitar Rp 1.000 dan biaya lain-lain sekitar Rp 100 per porsi sehingga total biaya Rp 1.100-Rp 1.300 per porsi. Bila pengusaha bisa membeli mi langsung ke produsen dalam jumlah besar, maka biaya akan lebih murah karena mendapat diskon.


Biaya pegawai
Pegawai yang menjalankan usaha ini dibayar dengan dua metode, yaitu bayar gaji Rp 50.000 per harinya atau Rp 25.000 per hari dan ditambah bonus bila penjualan melebihi porsi yang disepakati bersama. Pengusaha harus menjual sekitar 30 porsi dan sisanya dianggap sebagai bagi hasil. Hal ini untuk memberi motivasi bagi pekerja agar berjualan lebih giat. Biasanya pembayaran gaji dengan insentif atas penjualan sangat berguna untuk penjualan dengan gerobak keliling. Untuk usaha menggunakan tempat usaha menetap dipergunakan pembayaran gaji untuk yang melayani dan bagi hasil untuk yang memasak.
Bila pengusaha menggunakan tempat usaha menetap, pengusaha harus mengeluarkan biaya sewa tempat dan biaya setempat yang dikenal dengan biaya kekeluargaan untuk keamanan usaha. Biaya ini bisa dikeluarkan setiap hari atau sekali sebulan. Artinya, biaya yang dikeluarkan dengan tempat menetap akan lebih besar sehingga harga penjualan per porsi akan lebih tinggi.
Pengusaha menjual mi cepat saji seharga Rp 3.000-Rp 5.000 per porsi. Untuk harga Rp 3.000, hanya mi dan sayuran, tanpa telur. Bila mi tersebut memakai satu telur harga per porsi menjadi Rp 4.000, dan bila telurnya dua butir maka harga menjadi Rp 5.000. Berdasarkan penjualan minimum 40 porsi per hari, maka pengusaha bisa mendapat keuntungan sekitar Rp 100.000.
Risiko usaha pengusaha bervariasi. Paling utama bila hujan terus-menerus sehingga porsi yang terjual mengecil. Risiko lain tidak ada pembeli karena tempat keliling gerobak belum sesuai.
Sebaiknya pengusaha mengajarkan pekerja berjualan di tempat ramai anak-anak atau tempat keramaian. Ada baiknya pengusaha meriset tempat usaha atau daerah tempat keliling gerobak agar target penjualan terpenuhi. Kebersihan sangat diperlukan agar usaha berjalan baik. Selamat berusaha dan berinvestasi.

Sumber: Kompas, Minggu, 13 Januari 2008.

 
© free template by Blogspot tutorial